Rabu, 24 November 2010

Digital Cinema

Digital Cinema

Pengertian sinema digital

Sebelum kita bahas tentang Digital Cinema Lebih baik diketahui dahulu apa itu Digital Cinama , Digital Cinema atau Sinema digital merujuk pada penggunaan teknologi digital untuk mendistribusikan dan menayangkan gambar bergerak . disini Sebuah film dapat didistribusikan lewat perangkat keras , piringan optik atau satelit serta dapat ditayangkan menggunakan proyektor digital alih-alih proyektor film konvensional .

Sinema digital berbeda dari HDTV atau televisi high definition . Sinema digital tidak bergantung pada penggunaan televisi atau standar HDTV , aspek rasio atau peringkat bingkai . meskipun perkembangan terakhir di HDTV menyebabkan kebangkitan kepentingan terkait dalam menggunakan format HD untuk sinema digital , yang dikenal sebagai cinema HD . Proyektor digital yang memiliki resolusi 2K mulai disebarkan pada tahun 2005 dan sejak tahun 2006 . 2K disini mengacu pada resolutions 2048×1080 (1.90:1) dan 4K pada 4096×2160 (1.90:1) .

sinema digital dapat dibuat dengan media video yang untuk penayangannya dilakukan transfer dari format 35 milimeter (mm) ke format high definition (HD) . Proses transfer ke format HD melalui proses cetak yang disebut dengan proses blow up . Setelah menjadi format HD, penayangan film dilakukan dari satu tempat saja dan dioperasikan ke tempat lain dengan menggunakan satelit , sehingga tidak perlu dilakukan salinan film .

*Contohnya dapat dilihat dari beberapa bioskop di Jakarta , film dapat dioperasikan atau diputar ke bioskop-bioskop di daerah melalui satelit .

Digital Cinema

Sejarah sinema digital

Sutradara film George Lucas menyatakan “bahwa film yang berkembang pada abad pertengahan ke-19 mulai dikembangkan dari sebuah fotografi melalui media dengan menggunakan pita seluloid untuk menangkap dan merekam gambar”. Teknologi ini menjadi dasar pembuatan sebuah film , Lucas menyebutkan bahwa pada akhir abad ke-19 sampai akhir abad ke-20 telah ditemukan pengganti sebuah pita seluloid yaitu teknologi digital yang merupakan awal baru untuk penggarapan sebuah film dan bioskop . Teknologi digital membawa pengaruh besar dalam dunia perfilman mulai dari tahap pembuatan hingga tahap distribusi .

Masuk pada era modern , *baru-baru ini pada akhir tahun 2005 minat dari pada proyeksi film 3D stereo digital telah menyebabkan kemajuan baru pada bagian teater untuk bekerja sama dalam jumlah terbatas menginstal 2K instalasi untuk menunjukkan film dalam bentuk 3D. hampir Tujuh lebih film 3D digital akan dijadwalkan rilis pada tahun 2006 atau 2007 . Ini menunjukan akan meningkatnya jumlah 2K instalasi ke beberapa ratus pada akhir tahun 2006 . untuk biaya format target yang direncanakan 4K jauh lebih besar dan kemungkinan akan tetap ditunda sampai hasil yang lebih untuk 3D dievaluasi . 2K tidak benar-benar memperbaiki film yang ada sidik jarinya kecuali dalam menghilangkan goresan , dimana jika pada 4K kemungkinan akan terlihat lebih baik dari film 35mm . jika terbukti 3D yang menjadi factor mak akan terlihat jauh lebih baik dalam format 4K lebih besar .

Digital Cinema

Perbedaan sinema digital

Bila dilihat sinema digital hanya berbeda dengan sinema konvensional , disini dilihat juga dalam hal visualisasi dan suara . Visualisasi sinema digital berbentuk garis-garis sementara untuk sinema konvensional yang menggunakan media pita seluloid , memiliki struktur visualisasi berupa titik-titik . Untuk kualitas suara , sinema digital hanya dapat memberi kualitas suara stereo . Sementara sinema konvensional , memiliki kualitas suara dolby surround .

Digital Cinema

Perangkat Keras untuk Digital Cinema

  1. kamera

Pada tahun 2007, medium pengalihan paling umum bagi fitur yang ditayangkan secara digital adalah pita film 35 mm yang dipindai dan diproses pada resolusi 2K (2048×1080) atau 4K (4096×2160) lewat penengah digital . Kebanyakan fitur digital saat ini sudah bisa merekam pada resolusi 1920x1080 menggunakan kamera seperti Sony CineAlta , Panavision Genesis atau Thomson Viper . Kamera-kamera baru seperti Arriflex D-20 dapat menangkap gambar dengan resolusi 2K dan kamera bernama Red One keluaran perusahaan Red Digital Cinema Camera Company dapat merekam dengan resolusi 4K . Penggunaan proyeksi 2K pada sinema digital telah mencapai lebih dari 98 persen . Baru-baru ini perusahaan Dalsa Corporations Origin mengembangkan kamera yang dapat merekam dengan resolusi 4K RAW . Selain itu, ada jenis kamera lain yang dapat merekam dengan resolusi 5K RAW seperti RED EPIC. Ada juga kamera yang dapat merekam dengan resolusi 3K RAW . jika dilihat semakin jaman akan semakin lebih banyak lagi kamera yang mempunyai resolusi lebih besar dan lebih canggih dalam pembuatannya dan untuk kebutuhan sinema digital .

2. Proyektor

Untuk menayangkan sinema digital , diperlukan proyektor yang berbeda dengan proyektor untuk menayangkan sinema konvensional .

*Terdapat dua jenis proyektor yang dapat digunakan untuk menayangkan sinema digital :

  • proyektor DLP

Proyektor DLP memiliki resolusi 1280×1024 atau setara dengan 1.3 megapiksel . Proyektor DLP dikembangkan oleh perusahaan Texas Instrument. Ada tiga pabrik yang telah memiliki lisensi untuk memproduksi teknologi sinema DLP yaitu Christie Digital Systems, Barco, dan NEC . Christie yang telah lama berdiri sebagai pabrik teknologi proyektor sinema konvensional, adalah pembuat proyektor CP2000 --bentuk dasar proyektor yang paling banyak tersebar secara global (total kira-kira 5,500 unit). Barco meluncurkan seri DLP dengan resolusi 2K yang masih kalah dengan proyektor sinema digital DCI. Barco juga merancang dan mengembangkan produk proyektor dengan tingkat visualisasi berbeda bagi pembuat film profesional. NEC memproduksi Starus NC2500S, NC1500C dan NC800C proyektor 2K bagi layar kecil, medium dan besar. NEC juga memproduksi sistem penyedia sinema digital Starus dan alat-alat lain untuk menghubungkan dengan computer, tape analog atau digital, penerima satelit, DVD dan lain-lain.


Disini dapat dijelaskan bahwa NEC adalah pendatang baru dalam industri proyektor sinema digital , Christie adalah pemain utama dalam pasar Amerika Serikat. Sedangkan Barco memimpin pasar Eropa dan Asia.

  • proyektor DCI

proyektor DCI memiliki dua jenis spesifikasi, yaitu 2K (2048×1080) atau setara 2.2 MP pada 24 atau 48 bingkai dan 4K (4096×2160) atau setara dengan 8.85 MP pada 24 bingkai per detik .

Teknologi penayangan sinema digital lainnya dibuat oleh perusahaan Sony dan diberi label teknologi "SXRD" . Proyektor-proyektor SXRD seperti SRXR210 dan SRXR220 , menawarkan resolusi 4096x2160 (4K) dan memiliki piksel empat kali lebih banyak dari pada proyektor 2K . Proyektor sinema digital Sony juga memiliki harga yang kompetitif dengan proyektor DLP 2 K yang memiliki resolusi lebih rendah (2048x1080 atau setara dengan 2.2 megapiksel) .

3. Sound System

Terintegrasi dengan otomatisasi yang ada dan sistem suara , memberikan kualitas gambar dan suara yang luar biasa menakjubkan . Dan Dolby Digital Cinema memenuhi spesifikasi kunci DCI sambil memberikan operasi sederhana , kehandalan yang luar biasa , dan tingkat keamanan tertinggi dalam bisnis . Sistem ini server digital pertama untuk mencapai Federal Information Processing Standards (FIPS) Tingkat 3 sertifikasi , memastikan tingkat tertinggi perlindungan anti pembajakan sebagaimana ditentukan oleh DCI .

Digital Cinema

Proses pasca-produksi sinema digital

Pada proses pasca produksi ini , dapat dilihat bahwa sampai saat ini , proses pembuatan film yang masih menggunakan kamera pita seluloid 35mm atau 70mm . yang sudah kita ketahui memiliki kualitas gambar yang lebih rendah bila dibandingkan dengan proses pembuatan film yang menggunakan teknologi digital . Selain itu dengan menggunakan teknologi digital untuk proses produksi dan pasca produksi bisa menggunakan atau memanfaatkan computer . Digital film dimulai pada akhir 1980-an ketika Sony membawa konsep ‘sinematografi elektronik, namun sayangnya inisiatif itu harus gagal . Pada akhir tahun 1990-an, dengan diperkenalkannya teknologi HDCAM dan mengganti nama menjadi ‘sinematografi digital’ yang proses pembuatannya menggunaakan kamera digital dan pada akhirnya teknologi ini mengambil alih untuk semua proses pembuatan film . kembali kepada George Lucas karena dia merupakan orang yang sangat berperan dalam melahirkan teknologi baru ini , ketika pada tahun 2001 dia menggarap sebuah film berjudul star wars dengan meggunakan Sony HDW-F900 HDCAM yang dilengkapi dengan lensa panavision camcorder high-end . High-end kamera menggunakan sensor tunggal yang ukurannya hampir setara dengan 35mm frame . Selain itu, pengambilan gambar dalam format HDTV progresif memberikan gambar yang berukuran 720-1080 pixel .

Digital Cinema

Keuntungan ekonomi dan kelebihan sinema digital

Penggunaan teknologi digital dalam proses produksi memberikan keuntungan , bila sebelumnya dalam penggarapan sebuah sinema , sinema harus dibuat dengan pita seluloid yang harganya bisa dibilang sangat mahal . Pita seluloid 35 mm satu rollnya berharga empat juta dan hanya mampu merekam sepanjang empat menit . Berarti bayangkan bila yang kita buat itu sinema berdurasi seratus menit harus berapa dana yang kita keluarkan ? 25 juta rupiah , tentu harga yang besar bukan . Itu hanya untuk merekam gambar dan belum untuk mengedit dan memperbanyak gambar . Pada sinema seluloid , sinema harus melalui proses printing dan blow up yang bisa menghabiskan dana minimal 233 juta rupiah . Sedangkan biaya untuk membuat kopi sinema adalah 10 juta rupiah . Padahal untuk diputar di bioskop di seluruh Indonesia, sebuah sinema minimal harus memiliki 25 kopi . Artinya produser harus menyediakan dana 250 juta rupiah.

Sedangkan biaya untuk proses pembuatan secara digital dibutuhkan dana yang jauh lebih rendah dibanding mengunakan pita seluloid . Untuk proses pengeditan secara digital , file bisa disimpan kedalam hardisk atau memori flash . Selain itu file nya bisa didownload dengan menggunakan sistem RAID (Redundant Array of Inexpensive/Drives independen/Disk). Oleh karena itu, bagi para produser sinema digital merupakan teknologi yang sangat murah . Teknologi ini dapat dijadikan alternatif untuk para pembuat film yang ingin berkarya dengan biaya yang tidak mahal dapat menghasilkan sebuah karya yang bernilai harganya .

Digital Cinema

Penayangan sinema digital

Walau sinema digital memiliki keuntungan dalam tahap produksi dan pascaproduksi namun penayangannya masih menjadi hambatan besar. Mengapa demikian ? karena sebagian besar bioskop di Indonesia hanya memiliki alat untuk memutar sinema seluloid . Satunya-satunya cara agar sinema digital bisa diputar di bioskop hanyalah dengan mencetaknya kembali dalam pita seluloid . Sedangkan tidak semua sinema digital yang berformat video bisa ditransfer menjadi seluloid karena standar video adalah 625 garis atau 525 garis . Sedangkan, kualitas imaji seluloid 35 mm setara dengan 2.500 garis . Jadi kalau dari video digital ditransfer ke seluloid , hasilnya akan jauh dari memuaskan . Di Indonesia untuk saat ini hanya Blitzmegaplex yang mempunyai peralatan yang mampu menayangkan film dengan format digital .

Digital Cinema

Daftar isi

  1. Pengertian sinema digital

  2. Sejarah sinema digital

  3. Perbedaan sinema digital

  4. Perangkat Keras untuk Digital Cinema

  5. Proses pasca-produksi sinema digital

  6. Keuntungan ekonomi dan kelebihan sinema digital

  7. Penayangan sinema digital

Digital Cinema

Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Sinema_digital

http://huanghosay.blogspot.com/2010/10/4-digital-cinema.html

Dharmawan, NA. 2007. Serba-serbi Digital.Bandung: Grafika

keuntungan digital cinema


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
saya pelajar biasa di SMAN 13 BEKASI, yang hobinya main komputer, dengerin musik, & seneng banget tendangin samsak. ngajar kyokushin karate di lapangan serbaguna di belakang rumah, latihan kyokushin karate di GOR BEKASI, & latihan karate sejak kelas 1 SD umur 5 tahun. & tahun 2007 menjajaki beladiri lain "taekwondo" allhamdulilah saya bisa berprestasi juga di taekwondo, sampe sekarang.